Pabrik Ekstasi Digerebek

Kompas.com - 28/06/2008, 08:29 WIB

JAKARTA, SABTU - Sebanyak 3.120 butir ekstasi dan prekusor siap cetak seberat 10 kilogram, yang nilainya ditaksir lebih dari Rp 10 miliar, disita dari pabrik rumahan di Gang Buntu RT 1 RW 1, tepi Jalan Meruya Ilir, Kelurahan Srengseng, Meruya, Jakarta Barat, Jumat (27/6) pagi, sekitar pukul 07.00.

Dua tersangka, Dwiyanto dan Hartoyo, ditangkap polisi. Istri Dwiyanto kabur membawa dua tas besar berwarna hitam yang diduga berisi puluhan ribu ekstasi, siap edar.

Masni (70) dan anggota keluarganya serta beberapa penghuni rumah kontrakan Masni di gang buntu mengungkapkan, awalnya, pukul 06.00, mereka melihat Hartoyo muncul dari atap belakang rumah yang dikontrak Dwiyanto.

Wajah Hartoyo sayu, tetapi perilakunya seperti orang yang sedang mengonsumsi ekstasi dan terlihat ketakutan. Sambil turun dari atap, ia berteriak minta tolong karena mau dibunuh Dwiyanto. Warga pun mengerumuninya. Melihat hal itu, Dwiyanto keluar dari rumahnya dan mengatakan Hartoyo kesurupan.

Akan tetapi, kepada warga yang berkerumun, Hartoyo mengatakan dirinya sudah beberapa hari dikurung Dwiyanto di peturasan. Karena diancam hendak dibunuh, Hartoyo pun kabur dengan menjebol plafon peturasan dan keluar lewat atap belakang rumah.

Hartoyo mengungkapkan, selama ini, rumah yang dikontrak pasangan Dwiyanto telah dijadikan pabrik ekstasi. Menurut Masni dan putranya, Hasanuddin yang juga ketua RT, Dwiyanto mengontrak rumah milik Masni selama setahun, tetapi keluarga beranak satu itu baru tinggal sebulan lebih di tempat itu.

Menurut Masni, pasangan Dwiyanto mengaku bekerja di dua toko milik orangtua mereka di ITC Mangga Dua, Penjaringan, Jakarta Utara. ”Kalau kerja, mereka naik sepeda motor sendiri- sendiri. Kadang baru pulang jam 22.00, bahkan pulang pagi,” ucap Masni.

Disita

Karena bingung dengan ucapan Dwiyanto dan Hartoyo, warga pun membawa keduanya ke Polsek Metro Kembangan. Tak lama, sejumlah polisi datang ke rumah kontrakan Dwiyanto. Ternyata apa yang diucapkan Hartoyo benar. Selain ekstasi dan bahannya, polisi juga menyita dua alat cetak manualnya. Polisi memasang garis polisi di rumah kontrakan berkusen biru itu.

Menjelang kedatangan polisi, istri Dwiyanto diam-diam kabur menyelamatkan dua tas hitam besar yang diduga berisi puluhan ribu butir ekstasi.

”Saya sempat lihat dia kabur buru-buru dengan dua tas hitam besar. Dari celah tasnya, saya melihat banyak pil warna-warni. Tetapi, sebagian besar berwarna putih,” ujar seorang warga yang tak mau disebut namanya.

Kepala Direktorat IV Badan Narkotika Nasional Brigadir Jenderal (Pol) Indradi Thanos yang dihubungi secara terpisah mengatakan, timnya sedang ikut menyelidiki kasus ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau